%3Astrip_icc()%3Aformat(jpeg)%2Fkly-media-production%2Fmedias%2F5516473%2Foriginal%2F017053500_1772306812-Untitled.jpg&w=1920&q=75)
liputan6.com · Mar 2, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260302T024500Z
Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (1/3/2026) mengatakan bahwa perang melawan Iran dapat berlangsung hingga satu bulan. Pernyataan itu disampaikan sehari setelah AS mengumumkan telah menghancurkan markas besar Garda Revolusi Iran dan Israel menyatakan operasi gabungan kedua negara telah memberikan "pukulan telak" terhadap sistem komando dan kendali Teheran. Sehari setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei yang memicu ketidakpastian mendalam di Timur Tengah dan ekonomi global, AS dan Israel melanjutkan serangan militer yang mengguncang berbagai sektor, mulai dari pelayaran, penerbangan, hingga harga minyak. Pejabat AS sebelumnya menyebut operasi militer ini diperkirakan berlangsung beberapa hari. Dalam wawancara terpisah dengan Daily Mail, Trump mengatakan serangan bisa berlanjut hingga empat pekan. "Ini memang selalu merupakan proses empat minggu. Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu. Ini selalu tentang proses empat minggu, jadi—sekuat apa pun itu, ini negara besar, akan memakan waktu empat minggu—atau kurang," kata Trump seperti dikutip media tersebut. Trump mengaku dirinya tetap terbuka untuk melakukan pembicaraan lanjutan dengan Iran, namun tidak memastikan apakah hal itu akan terjadi dalam waktu dekat. "Saya tidak tahu. Mereka ingin berbicara, tetapi saya katakan seharusnya kalian berbicara minggu lalu, bukan minggu ini," ujar Trump. Korban Jiwa Pertama dari Pihak ASMemasuki hari kedua konflik, Trump menyatakan 48 pemimpin Iran telah tewas dan militer AS mulai menenggelamkan Angkatan Laut Iran, dengan sembilan kapal perang Iran telah dihancurkan dan sisanya masih menjadi target. Militer AS menyebutkan bahwa lebih dari 1.000 target di Iran telah diserang sejak Trump memerintahkan dimulainya operasi tempur besar pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut mencakup penggunaan pesawat pengebom siluman B-2 yang menjatuhkan bom seberat 2.000 pon ke fasilitas rudal bawah tanah Iran. Sementara itu, serangan balasan Iran mulai menimbulkan korban di pihak AS. Jika pada Sabtu militer AS melaporkan tidak ada korban jiwa, pada Minggu diumumkan tiga tentara AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius dalam operasi melawan Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan sejumlah personel lain mengalami luka ringan akibat serpihan dan gegar otak, namun tidak mengungkapkan lokasi maupun rincian insiden tersebut. Dua pejabat AS yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim menyebutkan para prajurit tersebut tewas di sebuah pangkalan militer di Kuwait. Trump berusaha mempersiapkan publik AS atas kemungkinan bertambahnya korban. Dalam pidato video, ia menyampaikan duka cita namun mengakui kemungkinan akan ada korban tambahan. "Sayangnya, kemungkinan akan ada lagi sebelum ini berakhir," kata Trump. "Namun AS akan membalas kematian mereka dan memberikan pukulan paling keras kepada para teroris yang telah berperang melawan, pada dasarnya, peradaban." Utusan AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Michael Waltz, menulis di platform X, "Kebebasan tidak pernah gratis."Dampak Global dan Risiko PolitikPenutupan Selat Hormuz—jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—serta pengeboman terhadap kota-kota Teluk seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha, menunjukkan besarnya risiko yang diambil Trump dengan menyerang Iran menjelang pemilu sela AS yang akan menentukan kendali Kongres. Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos pada Minggu, hanya sekitar satu dari empat warga AS yang menyetujui operasi militer tersebut. Jika Selat Hormuz tetap ditutup lebih dari beberapa hari, konsumen AS diperkirakan akan merasakan dampaknya melalui kenaikan harga bahan bakar. Tantangan Eksistensial bagi Iran Militer Israel pada Minggu malam menyatakan angkatan udaranya telah menguasai wilayah udara Teheran dan melancarkan gelombang serangan yang menargetkan pusat intelijen, keamanan, dan komando militer di ibu kota Iran. Seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan fokus saat ini adalah melemahkan pemerintah Iran hingga runtuh. Ia menambahkan Israel "bertindak dengan caranya sendiri" untuk mendorong rakyat Iran turun ke jalan. Garda Revolusi Iran pada Minggu menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak milik AS dan Inggris di Teluk dan Selat Hormuz, serta menyerang pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain menggunakan drone dan rudal. Perjalanan udara global turut terganggu parah akibat serangan udara berkelanjutan yang menyebabkan bandara-bandara utama Timur Tengah ditutup, termasuk Dubai yang merupakan pusat penerbangan internasional tersibuk di dunia. Situasi ini menjadi salah satu gangguan penerbangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Di Iran, yang menghadapi tantangan terbesar sejak perang dengan Irak pada 1980–1988, Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan sebuah dewan kepemimpinan yang terdiri dari dirinya, kepala lembaga peradilan, dan seorang anggota Dewan Garda untuk sementara mengambil alih tugas pemimpin tertinggi. Kementerian Luar Negeri Oman menyatakan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengisyaratkan Teheran terbuka untuk de-eskalasi. Namun dalam unggahannya di X, Araghchi menyatakan Iran siap terus bertempur. "Selama dua dekade terakhir, kami mengamati dan mempelajari berbagai kegagalan militer AS di negara-negara yang berada di sebelah timur dan barat kami," tulisnya. "Karena itu, pemboman terhadap ibu kota kami tidak akan melemahkan atau menghentikan kemampuan kami untuk terus berperang." Ketidakpastian Arah SelanjutnyaSejumlah anggota parlemen AS meragukan kemungkinan perubahan rezim hanya melalui operasi militer yang sedang berlangsung. Senator Demokrat Chris Coons menyatakan ia tidak melihat bagaimana perubahan pemerintahan di Iran dapat terjadi semata-mata lewat serangan udara. "Saya tidak mengetahui satu pun contoh dalam sejarah modern di mana perubahan rezim terjadi hanya melalui serangan udara," ujarnya dalam program CNN 'State of the Union'. Pandangan serupa disampaikan Jonathan Panikoff, mantan pejabat intelijen nasional AS untuk kawasan Timur Tengah. Ia menilai Washington dan Israel tampaknya tidak hanya berupaya melemahkan kemampuan militer Iran, tetapi juga berusaha mengguncang stabilitas rezim dengan menyingkirkan para pemimpin senior serta menguji loyalitas jajaran aparat di bawahnya. Menurut Panikoff, keberhasilan strategi tersebut pada akhirnya akan bergantung pada sikap aparat keamanan Iran—apakah mereka tetap setia kepada kepemimpinan yang ada atau justru membelot jika gelombang protes publik kembali muncul. Sementara itu, Senator Republik Tom Cotton, yang menjabat sebagai ketua Komite Intelijen Senat, mengatakan situasi ke depan masih penuh ketidakpastian. "Tidak ada jawaban sederhana mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya," ujarnya dalam program CBS News 'Face the Nation'. Senator Republik Lindsey Graham, sekutu dekat Trump yang selama ini dikenal konsisten mendukung penggunaan kekuatan militer dan kebijakan keamanan nasional yang tegas, menolak anggapan bahwa AS akan menanggung sepenuhnya konsekuensi dari konflik ini. "Anda tahu, gagasan 'Anda merusaknya, Anda memilikinya', saya sama sekali tidak setuju," kata Graham dalam program NBC 'Meet the Press'. "Ini bukan Irak. Ini bukan Jerman. Ini bukan Jepang. Kami akan membebaskan rakyat dari rezim teroris."