%3Astrip_icc()%3Aformat(jpeg)%2Fkly-media-production%2Fmedias%2F4850873%2Foriginal%2F023752100_1717379179-Untitled.jpg&w=1920&q=75)
liputan6.com · Mar 1, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260301T184500Z
Liputan6.com, Tel Aviv - Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad — sosok garis keras yang kontroversial dan selama bertahun-tahun menjadi wajah perlawanan Teheran terhadap tekanan nuklir internasional serta retorika keras anti-Israel — dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel pada awal operasi militer di dalam wilayah Iran. Laporan tersebut pertama kali disampaikan media Israel, Ma’ariv, yang menyebut Ahmadinejad berada dalam status tahanan rumah ketika serangan terjadi. Ia dikabarkan tewas akibat serangan terarah yang menghantam kediamannya. Demikian seperti dikutip dari NY Post. Serangan yang dilaporkan menewaskan Ahmadinejad terjadi pada Sabtu (28/2/2026), dalam rangkaian serangan di dalam wilayah Iran. Dalam gelombang serangan pembuka pada Sabtu pagi itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei juga dilaporkan tewas. Kematian Khamenei kemudian dikonfirmasi oleh media milik pemerintah Iran pada pada Minggu (1/3). Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Iran terkait kabar tersebut. Ahmadinejad menjabat sebagai presiden keenam Iran pada periode 2005 hingga 2013. Ia naik ke panggung politik nasional dari posisi relatif tidak dikenal sebagai Wali Kota Teheran, sebelum secara mengejutkan mengalahkan tokoh mapan Akbar Hashemi Rafsanjani dalam putaran kedua pemilihan presiden tahun 2005. Pemilihan kembali Ahmadinejad pada 2009 memicu kontroversi besar. Hasil pemilu yang disengketakan memicu gelombang protes massal yang dikenal sebagai "Gerakan Hijau". Demonstrasi tersebut menjadi salah satu krisis internal paling serius dalam sejarah Republik Islam Iran dan ditumpas secara keras oleh aparat keamanan. Di dalam dan luar negeri, para pengkritiknya menilai Ahmadinejad sebagai ideolog konfrontatif. Kebijakan ekonominya disebut-sebut memicu lonjakan inflasi dan memperdalam isolasi internasional Iran. Pada masa kepemimpinannya, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menjatuhkan beberapa putaran sanksi terhadap Iran terkait program nuklirnya, yang semakin memperberat tekanan ekonomi terhadap negara tersebut. Ahmadinejad dikenal luas di Barat karena retorikanya yang agresif terhadap Israel, termasuk pernyataannya yang kontroversial bahwa negara tersebut harus "dihapus dari peta". Ia secara terbuka meragukan fakta sejarah Holocaust dengan menyebutnya sebagai "mitos" yang diciptakan untuk membenarkan pendirian negara Yahudi di tanah Palestina. Puncaknya pada 2006, pemerintahannya menjadi tuan rumah konferensi internasional di Teheran yang bertajuk "Review of the Global Vision of the Holocaust". Forum ini secara luas dikecam dunia karena memberikan panggung bagi para penyangkal Holocaust dan tokoh supremasi kulit putih, termasuk mantan pemimpin Ku Klux Klan, David Duke. Langkah ini memicu gelombang kecaman internasional dan resolusi PBB karena dianggap sebagai upaya sistematis untuk mendelegitimasi sejarah pembantaian jutaan warga Yahudi demi kepentingan politik Iran di Timur Tengah.