:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4477888/original/073947200_1687477196-worker-oil-rig-sunset-created-with-generative-ai-technology.jpg)
liputan6.com · Feb 24, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260224T010000Z
Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin, seiring rencana pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meredam kekhawatiran konflik. Namun, ketidakpastian baru muncul setelah Presiden Donald Trump kembali menaikkan tarif impor. Dikutip dari CNBC, Selasa (24/2/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 27 sen atau 0,38% dan ditutup di level USD 71,49 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 17 sen atau 0,26% ke posisi USD 66,31 per barel. Stabilnya harga minyak mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar dalam merespons perkembangan geopolitik dan kebijakan perdagangan global. Trump pada Sabtu lalu menyatakan akan menaikkan tarif sementara dari 10% menjadi 15% terhadap seluruh impor AS. Kebijakan ini diambil setelah Supreme Court of the United States membatalkan program tarif sebelumnya. Langkah tersebut memicu kekhawatiran baru terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan potensi penurunan permintaan bahan bakar. Tarif Trump Tekan Pasar, Investor Mulai Hindari RisikoAnalis IG Markets, Tony Sycamore, mengatakan bahwa kebijakan tarif terbaru Trump memicu pergerakan investor ke aset yang lebih aman. “Berita tarif pada akhir pekan telah memicu aliran penghindaran risiko pagi ini. Hal ini terlihat dari pergerakan harga emas dan kontrak berjangka saham AS, serta menekan harga minyak mentah,” ujar Sycamore. Kebijakan tarif tersebut mengimbangi kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik militer antara AS dan Iran, yang sebelumnya mendorong harga Brent dan WTI naik lebih dari 5% pada pekan lalu. Ketegangan geopolitik sempat membuat investor waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia. Namun, sinyal diplomasi terbaru membuat pasar kembali mengambil sikap menunggu dan melihat perkembangan selanjutnya. Prospek Diplomasi AS-Iran dan Dampaknya ke Harga MinyakIran dan Amerika Serikat dijadwalkan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir pada Kamis di Jenewa, Swiss. Informasi ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi. Menurut Sycamore, pengumuman tersebut memperkuat pandangannya bahwa AS dan Iran saat ini tengah terlibat dalam permainan diplomasi yang saling menguji. “Saya tidak percaya bahwa AS ingin menyerang Iran, mengingat risiko ketidakstabilan kawasan serta potensi ketidakpuasan pemilih menjelang pemilu paruh waktu November,” kata Sycamore. Sementara itu, seorang pejabat senior Iran menyebutkan bahwa negaranya siap memberikan konsesi terkait program nuklir, dengan imbalan pencabutan sanksi dan pengakuan atas hak Iran untuk memperkaya uranium. Perkembangan ini dinilai menjadi faktor penting yang akan memengaruhi arah harga minyak dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika kesepakatan dapat mengurangi risiko konflik dan membuka peluang peningkatan pasokan energi global.