:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5185248/original/087119600_1744370189-medium-shot-sick-woman-with-fever_23-2149247989.jpg)
liputan6.com · Feb 21, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260221T123000Z
Liputan6.com, Jakarta - Kasus virus Nipah sempat mencuri perhatian pada awal tahun ini lantaran ada kasus di India serta satu kematian di Bangladesh. Indonesia hingga saat ini tidak memilliki laporan infeksi virus Nipah tapi kewaspadaan tetap penting karena reservoir alami dan habitat alami kelelawar buah ada di Tanah Air. Belum lagi, hingga kini tak ada vaksin dan pengobatan spesifik untuk infeksi penyakit ini. Lalu, kemudahan akses perjalanan internasional termasuk ke negara dengan kasus Nipah seperti India dan Bangladesh. Belum lagi risiko imported case dari pelaku perjalanan. “Walaupun belum ada kasus di Indonesia, kewaspadaan tetap penting. Mobilitas global yang tinggi membuat risiko penyakit lintas negara tidak bisa diabaikan,”kata dokter spesialis penyakit dalam Timoteus Richard dari Bethsaida Hospital Gading Serpong. Gejala virus Nipah biasanya muncul dalam waktu 5 hingga14 hari setelah terpapar. Namun, pada beberapa kasus bisa lebih cepat atau lebih lambat. “Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal,” kata Timoteus. Lebih lanjut, dokter lulusan dari Universitas Sam Ratulangi ini mengatakan pada saat awal, gejala orang terinfeksi virus Nipah mirip dengan penyakit infeksi lainnya. “Gejala awal Virus Nipah sering menyerupai infeksi biasa. Namun, bila disertai penurunan kesadaran atau gangguan napas, kondisi ini harus segera ditangani di fasilitas kesehatan,” ujar Timoteus dalam keterangan tertulis.