:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5503301/original/072763000_1771131680-smartgerdx.jpeg)
liputan6.com · Feb 16, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260216T033000Z
Liputan6.com, Jakarta - Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi ketika asam lambung diproduksi berlebihan hingga naik ke kerongkongan (reflux). Kondisi ini kerap disebut-sebut oleh masyarakat awam ketika mereka merasa tak nyaman di bagian perut. Kemudian mengklaim diri sebagai pasien GERD tanpa dasar yang jelas. Melihat fenomena ini, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen dan peneliti di Universitas Brawijaya (UB), Syifa Mustika mengembangkan inovasi platform digital bernama SmartGerdX. “SmartGerdX adalah website inovasi kesehatan terkait GERD yang bertujuan membantu masyarakat awam dalam memahami GERD, karena masih banyak orang yang mengklaim dirinya mengalami GERD tanpa dasar yang jelas,” ujar Syifa mengutip laman UB, Minggu (15/2/2026). Syifa menjelaskan cara kerja SmartGerdX adalah dengan menyediakan kuesioner untuk dijawab para pengguna. Pertanyaan-pertanyaan ini dirancang dari kuesioner GERD-Q yang telah teruji secara klinis. “Terdapat enam pertanyaan yang saya modifikasi untuk diisi oleh pengguna, kemudian akan keluar skor. Setelah itu, sistem akan menampilkan rekomendasi terkait penggunaan obat serta modifikasi gaya hidup berdasarkan skor yang diperoleh,” jelas Syifa. Inovasi ini lahir dari kepedulian Syifa terhadap banyaknya masyarakat yang mengku dirinya mengalami GERD tanpa dasar pemeriksaan yang jelas. Dan hanya berdasarkan informasi yang tidak terverifikasi atau kesamaan gejala. Selain itu, agar masyarakat tidak termakan hoaks terkait GERD. “Sebagai praktisi di bidang gastro, sering pasien datang ke saya dan mengatakan bahwa dirinya GERD, padahal belum dilakukan pemeriksaan dan penilaian,” kata SyifaCara Akses SmartGerdXInovasi ini dapat diakses oleh siapapun melalui platform SmartGerdX.com, serta telah diaplikasikan kepada 250 masyarakat di Banyuwangi pada bulan Desember 2025. Inovasi ini membuat SmartGerdX dan Syifa mendapatkan apresiasi langsung dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. “Kami sangat bangga melihat putra-putri Banyuwangi kembali membawa inovasi yang langsung memperkuat layanan publik. SmartGerdX menunjukkan bahwa teknologi dapat membuat layanan kesehatan lebih inklusif, cepat, dan berbasis data. Inilah bentuk kolaborasi yang kami harapkan antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi,” kata Ipuk.Sudah Dikembangkan Sejak 2024Inovasi yang sudah dikembangkan sejak 2024 ini juga berhasil masuk ke dalam 117 karya inovasi Business Innovation Center (BIC), Kementerian Riset dan Teknologi. SmartGerdX merupakan bagian dari ekosistem yang dibangun oleh Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) Universitas Brawijaya, yang memiliki mandat untuk memastikan bahwa riset dosen tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi bergerak menuju intellectual property protection (perlindungan kekayaan intelektual), incubation (inkubasi), dan downstream application yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Kepala Subdirektorat Inovasi dan Transfer Teknologi (PITT) Dias Satria, SE., M.App.Ec., Ph.D menjelaskan kiprah Syifa menjadi contoh nyata praktik research downstreaming atau transformasi penelitian menjadi layanan yang memiliki nilai tambah. “Keahlian medis yang dibangun di lingkungan akademik difasilitasi oleh DIKST, kemudian diimplementasikan di daerah yang memiliki kebutuhan nyata. Hasilnya bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga model kolaborasi antara kampus dan pemerintah daerah yang operasional dan terukur dampaknya,” kata Dias.Pastikan Inovasi Tak Berhenti di LaboratoriumSementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Universitas Brawijaya, Prof. Unti Ludigdo, memastikan pihaknya akan terus mendorong agar inovasi dosen tidak berhenti di laboratorium atau jurnal. “Melalui DIKST, kami membangun clear downstream pathway agar riset benar-benar menjadi solusi nyata. Apa yang dilakukan dr. Syifa di Banyuwangi adalah contoh ideal bagaimana inovasi akademik memberi dampak langsung,” katanya.