/data/photo/2026/02/17/6993f54c5ecb2.jpg)
kompas.com · Feb 17, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260217T064500Z
KOMPAS.com - Sosok Dr.dr. Achmad Rafli, Sp.A., Subsp. Neuro.(K) menarik perhatian karena menjadi salah satu lulusan doktoral atau S3 di Universitas Indonesia (UI) pada Sabtu (14/2/2026). Rafli berhasil lulus program doktor di UI dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 atau predikat sempurna (Suma Cumlaude).“Bagi saya, pencapaian ini bukan sekadar angka atau gelar. Yang terpenting adalah bagaimana ilmu yang saya pelajari bisa benar-benar terus bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup sesama, khususnya untuk kemajuan kesehatan anak-anak di Indonesia. Itulah motivasi utama saya,” kata Rafli. Rafli menjadi lulusan Kedokteran terbaik (FKUI) dengan penelitian yang menghadirkan harapan baru bagi anak-anak penderita epilepsi dengan kondisi resisten obat. Inovasi penelitian disertasinya berjudul "Pengembangan Model Machine Learning dalam Memprediksi Keberhasilan Tata Laksana pada Anak dengan Epilepsi Resisten Obat". Baca juga: 5 Tokoh Hadiri Wisuda Anaknya di UI, Menkeu Purbaya hingga Melly Goeslaw Hasilkan protokol pemeriksaan MRI kepala baru Ringkasnya, dr. Rafli dengan bimbingan guru-gurunya mengembangkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk membantu para dokter dalam memprediksi keberhasilan pengobatan anak-anak dengan obat resisten epilepsi. Selain itu, penelitian ini juga menghasilkan protokol pemeriksaan MRI kepala baru yang dapat mendeteksi fokus kejang di otak. Penelitian ini dilakukan Rafli karena sering mengamati perjuangan pasien dengan kejang yang belum terkendali meski sudah diberikan cukup banyak obat. Baca juga: 25.000 Guru Akan Belajar AI dan Computatonal Thinking melalui Wardah Inspiring Teacher Buat pengobatan epilepsi pada anak jadi lebih efektif “Harapan saya, teknologi ini bisa membuat pengobatan epilepsi pada anak jadi lebih efektif,” jelas dr. Rafli.Bagi dr. Rafli, kesulitan terbesarnya selama melanjutkan studi sambil tetap berpraktik adalah menyeimbangkan waktu dan peran sebagai dosen, dokter, sekaligus gambaran ayah. Namun hal tersebut terbukti tidak menghalangi langkahnya, justru keseimbangan peran membantu melahirkan pencapaian pencapaian IPK sempurna.bskdn.kemendagri.go.id Pemeringkatan UniRanks 2026 menempatkan sejumlah universitas terbaik di Indonesia berdasarkan kualitas pendidikan, kesiapan kerja lulusan, hingga dampak digital kampus. Daftar ini didominasi perguruan tinggi negeri dan menjadi salah satu referensi calon mahasiswa sebelum menentukan pilihan universitas. Ia juga menyelesaikan studi doktoral dalam empat semester, lulus pada usia relatif muda, dan melahirkan inovasi penelitian yang bermanfaat bagi anak-anak penderita epilepsi dengan kondisi resisten obat. Kontribusi penelitian tersebut mengantarkan dr. Rafli meraih Global Burden Fellowship Award dari International Child Neurology Association (ICNA) pada tahun 2025.Selain menjadi suatu prestasi individu yang kecewa, penghargaan ini menjadi bukti bahwa penelitian dari Indonesia mampu berkontribusi di tingkat dunia. “Setinggi apa pun gelar yang kita raih, tujuan akhirnya adalah untuk membantu sesama. Keberhasilan kita adalah titipan, di dalamnya ada doa orang tua, dukungan keluarga, guru bimbingan, serta kepercayaan dari pasien yang kita layani,” pesannya. Baca juga: 3 PTN Terbaik Indonesia Pakai TKA di SNBP 2026, buat Validator Rapor Saja? Saat ini, dr. Rafli tengah mempersiapkan penelitian post-doctoral yang direkognisi oleh ICNA. Proyeksi hasil penelitian ini diharapkan dapat diterapkan di negara-negara berkembang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang