%2Fdata%2Fphoto%2F2026%2F03%2F01%2F69a3444f146c3.png&w=1920&q=75)
lifestyle.kompas.com · Mar 1, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260301T041500Z
JAKARTA, KOMPAS.com - Masa remaja sering kali menjadi periode yang penuh gejolak emosi, yang mana masalah keluarga hingga urusan pertemanan, bisa berdampak besar pada kondisi psikologis. Dalam situasi seperti ini, kehadiran seorang teman yang mampu memahami dan memberikan rasa aman, menjadi sangat penting bagi mereka yang sedang merasa tidak baik-baik saja.Namun, banyak pelajar yang merasa bingung mengenai cara melakukan pendekatan atau merespons curhatan teman agar tidak salah langkah. Berikut cara merespons yang tepat menurut advokat kesehatan mental sekaligus pendiri komunitas @patahkanstigma.id, Yovania AJ. "Cara termudah untuk bisa tahu kita harus apa, itu adalah dengan memposisikan dia menjadi diri kita sendiri," ujar Yovania dalam sebuah dialog bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI di Fakultas Ilmu Kedokteran UI, Jumat (27/2/2026). "Kita bayangkan kita sedang ada di posisi dia, dan kita bayangkan, kira-kira apa sih kata-kata yang ingin kita dengarkan ketika kita pun sedang berada di posisi itu?" lanjut dia. Baca juga: Bukan Sekadar Curhat, Ini Tanda Oversharing di Media Sosial 1. Jadi pendengar aktif dan validasi perasaan teman Yovania menuturkan, hal pertama yang paling dibutuhkan seseorang saat bercerita adalah didengarkan secara aktif. Menjadi pendengar aktif melibatkan gestur fisik yang menunjukkan penerimaan, seperti mengangguk dan menjaga kontak mata tanpa terdistraksi oleh gawai. Selain mendengarkan, langkah selanjutnya yang tidak kalah penting adalah memberikan validasi terhadap perasaan teman, meskipun masalah yang diceritakan mungkin terasa sepele bagi orang lain. Validasi membantu orang tersebut merasa dipahami dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi emosinya."Kita harus sebaiknya mencoba untuk, 'oh oke, dia memang sedang merasa sedih, merasa kecewa'," tegas Yovania. Baca juga: Berani Curhat Saat Stres Tanda Kamu Punya Mental Sehat Menurut Psikolog 2. Hindari sikap "adu nasib" Salah satu kesalahan umum yang sering terjadi saat mendengarkan curhatan adalah kecenderungan untuk membandingkan penderitaan atau "adu nasib". Yovania mengingatkan agar pendengar tidak merebut posisi tokoh utama dalam percakapan. "Jangan sampai kita membandingkan nasib karena ketika kita sedang mendengar cerita seseorang, fokusnya adalah cerita orang itu. Mereka yang sedang jadi tokoh utama," ucap dia. Sebelum memberikan respons atau saran, sangat disarankan untuk bertanya terlebih dahulu mengenai kebutuhan teman. Hal ini dilakukan agar bantuan yang diberikan sesuai dengan harapan mereka, apakah hanya ingin didengarkan, butuh pendapat, atau memerlukan saran praktis. Baca juga: Sering Curhat ke Chatbot AI, Waspadai Risiko Ketergantungan Emosional Google Gemini AI Ilustrasi curhat.