%2Fdata%2Fphoto%2F2023%2F10%2F10%2F6524d39b0cafb.png&w=1920&q=75)
lifestyle.kompas.com · Mar 1, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260301T013000Z
JAKARTA, KOMPAS.com - Media sosial sering kali menjadi pisau bermata dua bagi kesehatan mental remaja karena memfasilitasi kebiasaan membandingkan diri (self-comparison) yang sangat masif. Fenomena ini membuat seseorang sering terjebak dalam overthinking atau terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan.Advokat kesehatan mental sekaligus CEO dan Co-Founder Santosha, Lady Noor Chita, mengatakan, perasaan ingin membandingkan diri adalah hal yang manusiawi, tetapi bisa menjadi racun jika tidak dikelola dengan kesadaran penuh. "Sebenarnya normal untuk membandingkan karena itu adalah perilaku manusia. Tapi yang kemudian menjadi salah adalah ketika kita terlalu fokus ke orang lain dibandingkan ke diri kita sendiri," ujar Chita dalam sebuah dialog bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI di Fakultas Ilmu Kedokteran UI, Jumat (27/2/2026). Baca juga: Mengapa Banyak Orang Lebih Pilih Komplain di Media Sosial? Ini Kata Sosiolog Perasaan tertinggal hingga ketakutan untuk melangkah maju kerap muncul saat melihat standar hidup orang lain yang tampak begitu ideal di layar ponsel. Padahal, apa yang tersaji di media sosial hanyalah potongan kecil dari realitas yang telah dikurasi sedemikian rupa. Pentingnya memberi jeda pada otak pexels.com Ilustrasi overthinking Paparan konten yang bertubi-tubi tanpa disadari memberikan beban kerja ekstra pada otak.Chita menjelaskan, saat kamu scrolling di media sosial selama berjam-jam, otak secara bawah sadar terus memproses setiap konten yang terpapar, meskipun durasinya kurang dari satu menit.Otak akan mengenali hal-hal yang dianggap menarik dan membuat kita berhenti lebih lama pada konten tertentu, yang sering kali justru memicu perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Baca juga: Mengenal Istilah Pick Me, Sering Dipakai di Media Sosial Salah satu teknik yang bisa dilakukan untuk mengatasi kecemasan ini adalah dengan memberikan jeda secara sengaja. Jeda ini bukan sekadar berhenti melihat layar, melainkan berfungsi sebagai masa transisi untuk mengembalikan kesadaran dari dunia maya ke realitas kehidupan yang sebenarnya. "Kasih waktu buat diri kita sendiri untuk memproses bahwa semua yang ada di media sosial itu ya sudah, yang di media sosial saja. Belum tentu benar, belum tentu bahagia juga. Kita semua harus balik lagi ke kondisi kita saat ini, di kondisi kita sadar, kondisi realitas kita," tutur Chita. Menurut Chita, momen kembali ke realitas ini sangat penting untuk mengevaluasi kebahagiaan personal tanpa standar orang lain. "Ketika kita membandingkan diri ke orang lain, balik ke diri dan realitas kita sendiri, apakah kita bakal senang ketika melakukan itu? Karena ada orang yang senang dapat pencapaian banyak, ada juga yang enggak senang," sambung dia. Baca juga: Apakah Hobi Flexing Tanda Kurang Percaya Diri? Ini Penjelasan Psikolog Mengubah stres menjadi motivasi BrianAJackson Ilustrasi