
analisis.republika.co.id · Feb 24, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260224T030000Z
Oleh : Achmad Tshofawie; Kordinator ECOFITRAH, keluarga ICMI dan FKPPIREPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan kerap direduksi menjadi urusan dapur dan jam berbuka. Diskursus publik lebih sering berkutat pada menu iftar, harga pangan, dan antrean takjil, ketimbang makna terdalam puasa itu sendiri. Padahal, di tengah krisis ekologis global—perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan krisis akses terhadap pangan—puasa justru menawarkan satu etika yang semakin langka sekaligus mendesak: kemampuan menahan diri.Puasa dalam Islam bukan semata menunda makan dan minum. Ia adalah latihan sadar untuk mengendalikan dorongan, mengerem hasrat, dan menata ulang relasi manusia dengan tubuh, sesama, dan alam. Dalam bahasa Qur’ani, puasa disebut shaum—yang akar maknanya adalah imsak, menahan. Pertanyaannya: menahan apa, dan untuk tujuan apa? Menahan Diri di Tengah Peradaban yang Tak Pernah BerhentiPeradaban modern dibangun di atas logika sebaliknya: pertumbuhan tanpa henti, konsumsi tanpa rem, dan eksploitasi tanpa jeda. Alam diperlakukan sebagai objek pasif yang harus terus diperas untuk menopang gaya hidup manusia. Hasilnya kini kita rasakan bersama: iklim yang kian ekstrem, hutan yang menyusut, sungai yang tercemar, dan sistem pangan yang semakin rapuh. Ironisnya, krisis ini bukan lahir dari kekurangan teknologi, melainkan dari kelebihan nafsu. Kita tahu cara memproduksi, tetapi lupa kapan harus berhenti. Kita mampu menciptakan pangan melimpah, tetapi gagal mendistribusikannya secara adil. Kita piawai menghitung pertumbuhan ekonomi, tetapi abai pada daya dukung bumi.Di titik inilah Ramadhan menemukan relevansinya yang paling kontekstual.Jika puasa dimaknai sebagai menahan diri demi keberlangsungan hidup, maka alam sejatinya telah mempraktikkannya jauh sebelum manusia mengenalnya sebagai ritual. Tumbuhan mengenal dormansi: fase berhenti tumbuh ketika kondisi tidak memungkinkan. Hewan melakukan hibernasi, menurunkan metabolisme dan menghentikan konsumsi berbulan-bulan lamanya. Sebagian ikan dan burung bermigrasi ribuan kilometer tanpa makan, mengandalkan cadangan energi yang tersimpan.Semua itu bukan tanda kelemahan, melainkan kecerdasan ekologis. Alam memahami satu prinsip dasar: hidup berkelanjutan hanya mungkin jika ada kemampuan menahan diri.Manusia, ironisnya, justru menjadi mahluk yang seringkali gagal dalam hal ini.Puasa, Tubuh, dan Temuan SainsMenariknya, sains modern justru mengonfirmasi hikmah puasa yang telah diajarkan agama berabad- abad lalu. Penelitian Valter Longo dan Mark Mattson (2014) menunjukkan bahwa pola intermittent fasting dapat meningkatkan regenerasi sel,menurunkan peradangan, memperbaiki sensitivitas insulin, serta mengaktifkan mekanisme perbaikan alami tubuh.Kajian lain oleh Patterson dan Sears (2017) menyimpulkan bahwa puasa berselang berpotensi menurunkan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular. Puasa Ramadhan prinsip dasarnya memberi jeda pada tubuh dari konsumsi berlebihan.Jika puasa intermiten saja terbukti memberi manfaat metabolik, maka puasa Ramadhan—yang dilakukan konsisten setiap hari selama hampir sebulan—sesungguhnya menyediakan peluang adaptasi biologis yang lebih stabil dan berulang. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa puasa Ramadhan aman secara metabolik dan berpotensi memperbaiki profil lemak darah serta menurunkan faktor risiko kardiovaskular (Kul et al., 2014; Sadeghirad et al., 2014). Pada tingkat seluler, riset tentang autophagy yang dikembangkan oleh Yoshinori Ohsumi—peraih Nobel Kedokteran 2016—menjelaskan bahwa kondisi kekurangan nutrisi yang berulang justru mengaktifkan mekanisme pembersihan danperemajaan sel. Dengan pola puasa harian yang ritmis, Ramadhan memberi ruang bagi proses biologis ini terjadi secara konsisten, tentu dengan catatan pola makan dan istirahat dijaga agar tidak meniadakan makna menahan itu sendiri.Dengan kata lain, puasa bukan penyiksaan, melainkan reset biologis. Tubuh, sebagaimana alam, bekerja lebih baik ketika tidak terus dipaksa menerima asupan tanpa henti.Puasa sebagai Kritik KonsumerismeJika dibaca secara jernih, Ramadhan sesungguhnya adalah kritik halus namun tajam terhadap konsumerisme. Ia mengajarkan penundaan kepuasan, sesuatu yang kian langka dalam budaya serba instan. Dalam puasa, manusia belajar bahwa tidak semua dorongan harus segera dipenuhi, dan tidak semua keinginan layak diikuti.Etika ini sangat relevan dengan tantangan perubahan lingkungan. Krisis lingkungan pada dasarnya adalah krisis ketidak mampuan manusia menahan diri: dari penggunaan energi berlebihan, produksi massal yang eksploitatif.Puasa, dalam pengertian ini, adalah latihan mikro untuk perubahan makro.Puasa juga membawa manusia keluar dari egosentrisme. Lapar dan haus membuka kesadaran akan realitas orang lain—mereka yang hidup dalam kekurangan bukan karena pilihan, tetapi karena ketidakadilan struktural. Karena itu, puasa selalu disandingkan dengan zakat, sedekah, dan kepedulian sosial.Dalam konteks Indonesia, etika ini relevan dengan persoalan ketahanan pangan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan yang saling terkait. Masyarakat yang berpuasa selayaknya peduli untuk tidak membuang limbah/pollutan sembarangan sehingga sungai yang tercemar. Masyarakat berpuasa juga pasti peduli terhadap ketimpangan sosial. Inilah sejatinya menjalankan puasa secara substantif.Jalan FitrahDalam perspektif teologis, puasa mengembalikan manusia pada fitrahnya: hidup secukupnya, sadar batas, dan bertanggung jawab. Fitrah ini sejatinya juga hukum dasar alam. Ketika manusia hidup melampaui batas, alam merespons dengan krisis.Karena itu, Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan peringatan ekologis dan moral. Ia mengingatkan bahwa keselamatan bumi tidak hanya bergantung pada teknologi hijau atau kebijakan global, tetapi pada transformasi etika manusia—dimulai dari hal paling sederhana: kemampuan untuk berhenti dan menahan.Di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk mengambil lebih banyak, lebih cepat, dan lebih besar, Ramadhan mengajarkan sebaliknya: berhenti, menahan, dan merenung. Alam telah memberi teladan lewat siklusnya; tubuh manusia mengonfirmasi lewat mekanismenya; wahyu menegaskan lewat nilai-nilainya.Jika puasa dipahami sebagai etika hidup, bukan sekadar ritual semata, maka Ramadhan bukan hanya menyelamatkan jiwa—tetapi juga memberi harapan bagi kelestarian bumi. Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.