:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/wakil-ketua-umum-bidang-kominfo-partai-golkar-nurul-arifin.jpg)
tribunnews.com · Feb 24, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260224T043000Z
Ringkasan Berita: Presiden Prabowo Subianto menyiapkan 8.000 personel TNI untuk bergabung dalam International Stabilization Force (ISF) di Gaza. Indonesia akan menjabat sebagai Wakil Komandan ISF, menunjukkan peran strategis dalam stabilisasi kawasan. Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Nurul Arifin, menilai pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza dapat membawa sejumlah manfaat strategis bagi Indonesia, baik dari sisi diplomasi maupun kontribusi kemanusiaan. TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Nurul Arifin, menilai pengiriman pasukan Indonesia dalam misi International Stabilization Force (ISF) ke Gaza dapat membawa sejumlah manfaat strategis bagi Indonesia, baik dari sisi diplomasi maupun kontribusi kemanusiaan. Menurut Nurul, kehadiran Indonesia dalam misi stabilisasi tersebut menunjukkan konsistensi politik luar negeri Indonesia yang selama ini mendukung perjuangan rakyat Palestina. Ia menegaskan bahwa keterlibatan tersebut bukan dalam konteks operasi militer, melainkan perlindungan masyarakat sipil dan dukungan terhadap terciptanya situasi yang aman dan stabil. “Kita selama ini selalu menyuarakan dukungan untuk Palestina. Ketika ada ruang untuk berkontribusi secara langsung dalam menjaga stabilitas dan membantu masyarakat sipil, tentu itu menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan politik kita,” kata Nurul, Selasa (24/2/2026). Perkuat posisi Indonesia Nurul Arifin berpandangan partisipasi Indonesia di Gaza juga dapat memperkuat posisi Indonesia di forum internasional sebagai negara yang aktif dalam upaya menjaga perdamaian dunia. Rekam jejak Indonesia dalam berbagai misi penjaga perdamaian dinilai menjadi modal penting untuk menjalankan peran tersebut secara profesional. Selain memperkuat diplomasi, Nurul menilai misi ini juga memberi manfaat bagi peningkatan kapasitas prajurit TNI dalam menjalankan operasi non-tempur di wilayah konflik. Pengalaman di lapangan, menurutnya, akan memperkaya kemampuan koordinasi multinasional dan penanganan krisis kemanusiaan. “Pengalaman seperti ini penting, karena tantangan keamanan global ke depan tidak selalu berbentuk perang konvensional. Banyak situasi yang membutuhkan kehadiran pasukan untuk menjaga stabilitas tanpa terlibat dalam operasi tempur,” ujarnya. Ia menambahkan, stabilitas menjadi prasyarat utama bagi proses rekonstruksi dan pemulihan sosial di Gaza. Tanpa jaminan keamanan, distribusi bantuan dan pembangunan kembali infrastruktur akan sulit dilakukan secara optimal. Meski demikian, Nurul mengingatkan agar pemerintah memastikan mandat yang jelas dan komunikasi yang terbuka kepada publik. Kejelasan aturan keterlibatan dan perlindungan terhadap personel Indonesia, menurutnya, harus menjadi prioritas. “Selama mandatnya tegas, fokus pada perlindungan sipil dan kemanusiaan, serta tidak bergeser ke operasi militer, saya melihat ini sebagai langkah yang konstruktif,” kata dia. Nurul menegaskan bahwa peran aktif Indonesia di kawasan konflik harus tetap berpijak pada prinsip konstitusi, yakni ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial Mengenai pasukan perdamaian ISF di Gaza Indonesia termasuk 5 besar negara pengirim pasukan perdamaian terbanyak di dunia yang dikirim ke berbagai negara. Per Oktober 2024, tercatat 2.735 personel TNI aktif dalam 8 misi PBB di berbagai negara. Pasukan Garuda dikenal disiplin dan humanis, menjaga perdamaian di Lebanon, Kongo, Sudan Selatan, dan beberapa negara lain. Presiden Prabowo Subianto menyiapkan 8.000 personel TNI untuk bergabung dalam International Stabilization Force (ISF) di Gaza. Indonesia akan menjabat sebagai Wakil Komandan ISF, menunjukkan peran strategis dalam stabilisasi kawasan.