
lampost.co · Feb 22, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260222T091500Z
Metro (lampost.co)–Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Yani Kota Metro menuai kritik tajam dari pihak keluarga pasien. Rumah sakit rujukan utama tersebut dinilai gagal memberikan penanganan darurat kepada Bambang Siswanto, warga Punggur, Lampung Tengah, yang berada dalam kondisi kritis akibat gigitan ular berbisa. Insiden bermula saat Bambang digigit ular kala membersihkan area panti jompo di Lampung Tengah, Sabtu, 21 Febr/2/2026). Pihak keluarga segera melarikan Bambang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Ahmad Yani dengan harapan mendapatkan pertolongan pertama yang cepat dan memadai. Namun, anak korban, Pita, mengungkapkan kekecewaannya karena ayahnya justru tidak mendapatkan tindakan medis yang diharapkan. “Ayah saya kritis, kami bawa ke RSUD Ahmad Yani, tapi ditolak,” ujar Pita dengan nada kecewa, Sabtu. Alasan Stok Obat Kosong Menurut penuturan Pita, pihak rumah sakit berdalih tidak memiliki stok Serum Anti-Bisa Ular (ABU) dan enggan mengambil risiko medis. Keluarga merasa dipersulit karena diminta mencari rumah sakit lain di saat kondisi pasien sedang bertaruh nyawa. “Katanya tidak ada obat untuk pasien gigitan ular dan mereka tidak mau ambil risiko. Kami disuruh cari rumah sakit lain,” tambah Pita. Setelah merasa tidak mendapat respons positif, keluarga akhirnya membawa Bambang kembali ke salah satu rumah sakit di Kabupaten Lampung Tengah. Beruntung, di sana korban langsung mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan hingga kondisinya stabil. Kritik Keras Pita mempertanyakan kredibilitas RSUD Ahmad Yani sebagai fasilitas kesehatan rujukan jika tidak siap menangani kasus gawat darurat. “Sangat mengecewakan. Di saat ayah saya kritis, bukannya dibantu malah dipersulit. Apa gunanya rumah sakit rujukan kalau menolak pasien darurat?” cetusnya. Menanggapi keluhan tersebut, Direktur RSUD Ahmad Yani Kota Metro, Fitri Agustina, menyatakan akan segera melakukan investigasi internal. Ia membenarkan adanya kendala ketersediaan obat dari pihak penyalur. “Informasi dari bagian farmasi, stok obatnya memang kosong dari distributor. Namun, saya akan tetap menelusuri fakta di lapangan terkait insiden ini,” tandas Fitri. Kejadian ini memicu desakan dari masyarakat agar pemerintah daerah mengevaluasi ketersediaan obat-obatan vital di rumah sakit pelat merah, terutama untuk kasus-kasus darurat yang mengancam keselamatan warga. (ANT)