/data/photo/2023/11/02/6542ba706506a.jpg)
health.kompas.com · Feb 22, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260222T103000Z
KOMPAS.com - Salah satu cara termudah untuk melepas penat adalah dengan bermain ponsel untuk doomscrolling, alias menggulir media sosial secara terus-menerus. Namun, kebiasaan "santai" ini rupanya secara tidak langsung dapat merusak kesehatan jantung, terutama jika ini adalah caramu memulai hari selepas bangun tidur.“Saat kamu langsung memeriksa ponsel sesaat setelah bangun tidur, kamu sebenarnya sedang menyerahkan fokusmu pada hal-hal yang sering kali memicu kecemasan atau perasaan membanding-bandingkan diri," ungkap ahli bedah toraks di Southern California Surgical, dr. Alexandra Kharazi, MD, FACS, dikutip dari Parade, Minggu (22/2/2026). Baca juga: 3 Perubahan Kecil yang Berdampak Signifikan untuk Kesehatan Jantung Menurut dia, kebiasaan tersebut dapat menunda gerak tubuh, memangkas waktu untuk rutinitas yang lebih bermakna, dan menjebakmu dalam kondisi yang reaktif. Ahli jantung yang berbasis di Miami, dr. Leonard Pianko, MD, mengamini hal tersebut. Ia menambahkan, scrolling media sosial bisa memicu kecemasan yang kemudian merangsang hormon fight or flight, serta meningkatkan tekanan darah. "Tekanan darah tinggi dapat memaksa jantung bekerja lebih keras, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit jantung koroner," jelas dr. Pianko. Ahli kardiologi intervensi sekaligus direktur medis Structural Heart Program di MemorialCare Saddleback Medical Center, dr. Cheng-Han Chen, MD, menuturkan, penggunaan internet dan durasi menatap layar yang berlebihan juga bisa berdampak negatif pada kesehatan jantung karena meningkatkan perilaku kurang gerak. “Hal ini kemudian dapat meningkatkan risiko kondisi kardiometabolik seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas" tutur dr. Chen. Jika scrolling di pagi hari adalah hal yang buruk, bagaimana dengan malam hari sebelum tidur? “Doomscrolling sebelum waktu tidur dapat menyebabkan tidur yang buruk,” kata dr. Chen. “Jika tidurmu terganggu dan kamu mulai bermain ponsel, hal itu dapat lebih jauh memengaruhi tidurmu. Kurang tidur dapat meningkatkan risiko penyakit jantung,” tambah dia. Baca juga: Stres Finansial Ternyata Bisa Merusak Jantung, Dampaknya Setara Tekanan Darah Tinggi Bahaya terbesar dari doomscrolling Menurut dr. Kharazi, ada satu alasan mendasar yang mencakup semuanya mengapa doomscrolling dapat memengaruhi kesehatan jantung. “Seiring waktu, kebiasaan scrolling akan menjadi pola yang membuatmu mengabaikan kebiasaan-kebiasaan yang justru melindungi jantung, seperti olahraga, kualitas tidur yang baik, serta pengelolaan stres," terang dr. Kharazi. Selain itu, menjadikan scrolling sebagai kebiasaan rutin juga bisa berarti beberapa hal: Kamu cenderung lebih malas untuk bangun dan bergerak. Kamu mungkin makan sambil scrolling, yang membuatmu "terputus" dari sinyal rasa lapar dan kenyang dari tubuh. Kamu lebih berisiko menyerap misinformasi tentang diet, suplemen, atau solusi cepat dari sumber yang tidak kredibel, terutama di media sosial. Stres tingkat rendah yang kronis akibat doomscrolling atau perbandingan diri dapat menciptakan kondisi buruk bagi kerusakan vaskular jangka panjang. Cara mengurangi dan mengelola kebiasaan doomscrolling Memahami risiko dari doomscrolling dan kebiasaan menggulirkan layar tanpa henti bagi kesehatan jantung adalah setengah dari perjuangan. Berikut cara mengurangi dan mengelola kebiasaan tersebut. 1. Sadari bahwa "scrolling" berdampak buruk pada jantung Ahli jantung sekaligus profesor kedokteran di Burnett School of Medicine, Texas Christian University, dr. Paul Bhella, MD, FACC, FAHA, FASE, mengungkapkan, dunia kardiovaskular memang masih berada di tahap awal untuk memahami lebih lanjut terkait dampak buruk dari doomscrolling.“Meski demikian, aktivitas-aktivitas ini telah dikaitkan dengan peningkatan kecemasan, depresi, insomnia, serta stres psikologis," terang dia. Kondisi-kondisi tersebut meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, secara spesifik risiko serangan jantung atau gagal jantung. “Selain itu, scrolling tanpa henti mengalihkan perhatian dari keterlibatan dalam aktivitas sehat untuk jantung seperti olahraga, yang berdampak sangat positif pada tubuh manusia," ucap dr. Bhella. "Jadi, menetapkan batasan pada scrolling tanpa henti, seperti batas waktu, menghindari media sosial tepat sebelum kita tidur, dan mengatur feed untuk meminimalkan negativitas, adalah hal yang sangat penting," lanjut dia. Baca juga: 5 Rutinitas Pagi Sebelum Jam 07.00 yang Dukung Kesehatan Mental dan Jantung 2. Jangan "scrolling" di kasur Baik saat baru bangun tidur atau saat bersiap untuk tidur, dr. Kharazi mengatakan bahwa ponsel dapat mengacaukan harimu. Ponsel sebenarnya bukan sebuah ancaman. Namun secara fisiologis, jantung manusia tidak dirancang untuk menghadapi rentetan notifikasi yang muncul terus-menerus, scrolling tanpa henti, atau tekanan dari puluhan hal yang menuntut perhatian sesaat setelah bangun tidur. 3. Ganti kebiasaan "scrolling" dengan yang lebih sehat “Ganti scroll pagi dengan bergerak atau paparan sinar matahari,” kata dr. Kharazi. Kamu juga bisa menerapkan metode habit stacking, atau menumpuk kebiasaan, alih-alih menghilangkannya sama sekali. Misalnya, kamu tetap scrolling di pagi hari. Namun, hanya saat kamu berada di atas sepeda statis. Menggabungkan sesuatu yang kamu nikmati dengan sesuatu yang terasa seperti "beban", yakni berolahraga, bisa menjadi kompromi yang baik. 4. Tetapkan batas waktu dan batasan “Untuk mengurangi dampak penggunaan internet yang berlebihan pada kesehatan, sebaiknya tetapkan batasan,” imbau dr. Chen. Sebagai gantinya, waktu ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang lebih sehat, entah itu berolahraga atau bercengkerama dengan keluarga dan teman-teman. 5. Singkirkan ponsel saat makan Kamu sebaiknya menjauhkan ponsel saat sedang makan, sehingga kamu bisa menikmati hidangan tanpa gangguan. “Kebiasaan scrolling saat makan membuat otak tidak sinkron dengan tubuh, yang pada akhirnya memengaruhi pencernaan dan pengaturan berat badan, yang mana keduanya adalah faktor kunci dalam kesehatan jantung," pungkas dr. Kharazi. Baca juga: Sering Tertukar, Begini Cara Membedakan GERD dan Serangan Jantung Menurut Dokter KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang