:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-cadangan-minyak-venezuela.jpg)
tribunnews.com · Feb 19, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260219T140000Z
Ringkasan Berita: Harga minyak dunia naik mendekati level tertinggi enam bulan akibat potensi konflik militer AS–Iran yang dapat mengganggu pasokan energi global. Ketegangan meningkat ditandai aktivitas militer Iran, pembatasan di Selat Hormuz, serta pengerahan kapal perang AS, meski jalur diplomasi masih berjalan namun belum mencapai kesepakatan. Lonjakan harga minyak berisiko memicu inflasi global, meningkatkan biaya produksi dan transportasi, serta menekan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan dunia. TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia kembali menguat di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan kedua negara di kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat produksi energi global mendorong pelaku pasar memperhitungkan risiko gangguan pasokan dalam waktu dekat. Berdasarkan data perdagangan global yang dikutip dari Reuters pada Kamis (19/2/2026), harga minyak mentah Brent naik sebesar 1,11 dolar AS atau sekitar 1,58 persen menjadi 71,46 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga menguat 1,05 dolar AS atau sekitar 1,6 persen ke level 66,24 dolar AS per barel. Kenaikan ini membuat kedua acuan harga minyak mendekati posisi tertinggi dalam enam bulan terakhir, setelah sebelumnya melonjak lebih dari 4 persen pada perdagangan sehari sebelumnya. Konflik AS-Iran Jadi Pemicu Analis energi menilai lonjakan harga terjadi karena pasar semakin mengkhawatirkan kemungkinan aksi militer Washington terhadap Teheran. Mengingat belakangan ini ketegangan antara Iran dan AS semakin meningkat, ditandai oleh sejumlah perkembangan di bidang militer, keamanan, serta diplomasi yang saling memperkeras sikap kedua negara. Adapun peningkatan ketegangan terlihat dari langkah Iran yang mengeluarkan pemberitahuan penerbangan (NOTAM) terkait rencana peluncuran roket di wilayah selatan negara itu. Pemberitahuan tersebut biasanya dikeluarkan ketika akan dilakukan uji coba atau aktivitas militer yang berpotensi membahayakan lalu lintas udara. Baca juga: Perang AS–Iran di Depan Mata, Diprediksi Berlarut hingga Berpekan-pekan Ini Penjelasan Faktanya Selain itu, Iran juga sempat melakukan pembatasan aktivitas di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga memicu kekhawatiran pasar global terhadap gangguan distribusi energi. Di sisi lain, Amerika Serikat merespons dengan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Washington dilaporkan mengerahkan kapal perang dan memperkuat posisi militer di sekitar Teluk Persia sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan eskalasi situasi. Pemerintah AS juga menyatakan tengah mempertimbangkan berbagai opsi kebijakan, mulai dari melanjutkan jalur diplomasi hingga kemungkinan langkah lain jika ketegangan terus meningkat. Situasi semakin kompleks karena meski pembicaraan antara kedua negara di Jenewa disebut menunjukkan kemajuan, masih terdapat perbedaan mendasar yang belum terselesaikan. Kondisi ini membuat hubungan kedua negara berada dalam fase tidak pasti, di mana aktivitas militer di lapangan berjalan beriringan dengan upaya diplomasi.