
dw.com · Feb 27, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260227T163000Z
Dalam kunjungannya ke Eropa pekan lalu, Menteri Energi Amerika Serikat yang ditunjuk Donald Trump, Chris Wright, menyerukan agar Badan Energi Internasional, IEA, mengalihkan fokus dari energi bersih kembali ke bahan bakar fosil. Dalam pertemuan di markas besar lembaga antar pemerintah yang berfokus pada keamanan energi global di Paris, Wright menyebut komitmen IEA untuk secara besar besaran mengurangi emisi gas rumah kaca dari bahan bakar fosil sebagai sebuah “ilusi yang merusak”. Amerika Serikat, salah satu dari 45 negara anggota dan asosiasi IEA yang mewakili 75 persen permintaan energi dunia, mengancam akan keluar dari lembaga tersebut jika dalam satu tahun ke depan IEA tidak meninggalkan target transisi energinya, kata Wright. Wright, pendiri dan mantan CEO Liberty Energy, perusahaan rekah hidrolik minyak dan gas besar asal AS, dikenal vokal mengkritik apa yang ia sebut sebagai “alarmisme iklim”. Departemen Energi AS di bawah kepemimpinannya merilis laporan iklim kontroversial pada Juli 2025 yang mengecilkan dampak kenaikan suhu akibat pembakaran bahan bakar fosil. Pada Februari 2025, Presiden Trump, didampingi oleh Menteri Energi Chris Wright (ketiga dari kiri), menandatangani sebuah perintah eksekutif yang bertujuan mempercepat produksi energi fosilFoto: Samuel Corum/Sipa USA/picture alliance Padahal, cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim menyebabkan kerugian hingga 120 miliar dolar AS, sekitar 101 miliar euro (sekitar Rp1.717 triliun), sepanjang 2025 saja, menurut satu penilaian. Namun laporan yang dirilis kementeriannya menyatakan bahwa pemanasan akibat CO₂ “secara ekonomi kurang merusak dibanding yang selama ini diyakini”. Sebaliknya, Wright berpendapat bahwa kebijakan transisi menjauh dari bahan bakar fosil justru merugikan ekonomi AS dan Uni Eropa. Selama berada di Eropa, ia mengatakan kepada wartawan bahwa transisi energi bersih, yang ia sebut sebagai “kultus iklim”, telah “mengurangi peluang ekonomi bagi warga Eropa”. Ia sebelumnya juga menyatakan bahwa “alarmisme iklim” telah mengurangi kebebasan energi dan pada akhirnya melemahkan kemakmuran serta keamanan nasional di Eropa Barat.Apakah energi terbarukan benar-benar merugikan ekonomi UE? Sam Alvis, Associate Director bidang lingkungan dan keamanan energi di Institute for Public Policy Research, IPPR, Inggris, menolak klaim bahwa adopsi energi terbarukan telah merugikan ekonomi Eropa. Lebih dari 25 persen energi di blok tersebut kini berasal dari sumber bersih. “Itu sama sekali tidak benar,” ujarnya kepada DW. “Tenaga surya dan angin darat masih menjadi bentuk energi termurah yang tersedia,” katanya, merujuk pada kawasan yang memiliki cadangan bahan bakar fosil domestik yang terbatas. Panel surya yang semakin berkembang saat ini menghasilkan energi termurah di EropaFoto: R. Linke/blickwinkel/picture alliance Harga panel surya telah turun sekitar 90 persen dalam satu dekade terakhir seiring lonjakan kapasitas manufaktur di Cina. Studi terbaru dari University of Surrey mengonfirmasi bahwa energi surya kini menjadi sumber pembangkit listrik skala besar termurah secara global, melampaui batu bara, gas, dan bahkan angin. Sementara itu, harga bahan bakar fosil sangat berfluktuasi. Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, saat Rusia masih menjadi pemasok gas terbesar Eropa, harga listrik dan gas di Eropa melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah. Para pemimpin Eropa kini menyuarakan kekhawatiran atas ketergantungan pada impor gas alam cair, LNG, dari AS yang meningkat setelah pasokan Rusia terhenti. Mereka juga menyerukan peningkatan investasi pada energi terbarukan domestik. “Ekonomi yang berpandangan jauh ke depan dan kompetitif secara global membutuhkan akses yang siap terhadap pasokan energi bersih yang melimpah,” kata Julie McNamara, Wakil Direktur Kebijakan Program Iklim dan Energi di organisasi nirlaba Union of Concerned Scientists. Seruan Menteri Energi AS untuk “mengunci peningkatan penggunaan bahan bakar fosil” dinilai “secara aktif melemahkan komitmen kuat dan strategis Eropa terhadap transisi energi bersih,” tambahnya. Spanyol, energi murah dan bersih Di Spanyol, ekonomi justru diuntungkan oleh pergeseran cepat ke energi angin dan surya. Negara Eropa selatan itu memiliki tarif listrik termahal di Uni Eropa pada 2019. Namun peningkatan besar dalam energi terbarukan membuat harga listrik turun 75 persen pada 2025, menurut lembaga pemikir energi global, Ember. Dengan energi hijau menggantikan batu bara dan gas, porsi bahan bakar fosil dalam jaringan listrik Spanyol kini hanya setengah dari Jerman, yang lebih bergantung pada gas. “Spanyol telah memutus mata rantai yang merugikan antara harga listrik dan volatilitas bahan bakar fosil, sesuatu yang sangat ingin dicapai negara negara Eropa lainnya,” ujar analis senior energi Ember, Chris Rosslowe. Ekonomi terelektrifikasi lebih efisien Dalam pertemuan IEA, Wright juga mengklaim bahwa “banyak negara” secara pribadi menyatakan keinginan untuk kembali kompetitif dan melakukan reindustrialisasi melalui kebangkitan energi berbasis fosil. Namun Sam Alvis menegaskan bahwa “teknologi yang terelektrifikasi empat kali lebih efisien dibandingkan pembakaran bahan bakar fosil”. Ketika transportasi atau sistem energi dialiri listrik, hal itu memberikan “lonjakan produktivitas secara instan”, tambahnya. Menurut Alvis, berkurangnya peluang ekonomi di Eropa justru terjadi karena lambatnya pengakuan terhadap fakta ini. Akibatnya, perusahaan berbasis bahan bakar fosil yang bergerak lambat, seperti industri otomotif, tertinggal oleh teknologi inovatif dari luar, dengan industri kendaraan listrik Cina sebagai contoh utama. Sementara itu, Bob Ward, Direktur Kebijakan dan Komunikasi di Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment, London, menilai upaya Menteri Energi AS untuk meminimalkan dampak pembakaran bahan bakar fosil dan manfaat ekonomi energi terbarukan berkaitan dengan tujuan pemerintahannya untuk mencapai “Dominasi Energi Amerika”. “Pemerintah berusaha mencapainya terutama dengan menciptakan ketergantungan global yang lebih besar pada pasokan bahan bakar fosil dari Amerika Serikat,” ujarnya kepada DW. “Kebijakan iklim domestik maupun internasional jelas dipandang sebagai hambatan utama terhadap tujuan tersebut.” Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris Diadaptasi oleh Rahka Susanto Editor: Rizki Nugraha