:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tentara-pasukan-khusus-Afghanistan-yang-dikenal-sebagai-The-Triples.jpg)
tribunnews.com · Feb 16, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260216T043000Z
Ringkasan Berita: Teheran kembali memanas setelah pejabat AS mengungkap persiapan opsi militer terhadap Iran. Di tengah situasi itu, pemerintah Afghanistan menyatakan siap menunjukkan solidaritas jika Iran menjadi sasaran agresi. Hal ini dikatakan Juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid. TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Afghanistan menyatakan dukungan terbuka kepada Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, mengatakan bahwa jika Republik Islam Iran menjadi sasaran agresi, rakyat Afghanistan akan menawarkan berbagai bentuk solidaritas dan dukungan. Mujahid juga menyebut Iran sebagai pihak yang “muncul sebagai pemenang” dalam apa yang ia gambarkan sebagai perang 12 hari, seraya menegaskan bahwa Teheran memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri dari agresi di masa depan. Pernyataan itu muncul setelah duta besar Iran untuk Afghanistan, Alireza Bikdeli, mengungkap bahwa Teheran bergerak cepat memperkuat hubungan bilateral dengan Kabul di berbagai sektor. Ia bahkan menyebut tidak ada hambatan bagi Iran untuk secara resmi mengakui pemerintahan yang dipimpin Taliban, sebuah sinyal bahwa pengakuan diplomatik dapat segera terjadi. AS Siapkan Opsi Militer Baca juga: Bola Kini di Tangan Iran, Suplai Minyak Dunia Bisa Kacau Jika Teheran Balas Senjata Minyak AS-Israel Di sisi lain, dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa militer AS telah mempersiapkan kemungkinan agresi terhadap Iran selama berminggu-minggu, jika diperintahkan oleh Presiden Donald Trump, mengutip Al Mayadeen, Senin (16/2/2026). Menurut sumber tersebut, persiapan tidak terbatas pada serangan tunggal, melainkan berpotensi berkembang menjadi kampanye militer berkepanjangan, tergantung dinamika situasi. Hal ini terjadi di tengah upaya diplomatik baru antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran. Pekan lalu, diplomat AS dan Iran menggelar pembicaraan di Oman guna menghidupkan kembali negosiasi. Namun secara paralel, Pentagon dilaporkan menambah kehadiran militernya di Asia Barat, termasuk pengerahan kapal induk tambahan, ribuan personel, pesawat tempur, dan kapal perusak berpeluru kendali. Israel Tekankan Isu Nuklir dan Rudal Ketegangan semakin kompleks setelah kunjungan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih. Netanyahu menyatakan pembahasannya dengan Trump berfokus tentang Iran. Ia menekankan bahwa setiap kesepakatan antara AS dan Iran harus mencakup isu-isu krusial bagi Israel, termasuk program nuklir Iran, program rudal balistik, serta hubungan Teheran dengan sekutu regionalnya. Sementara itu, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan bahwa jika Iran diserang, mereka dapat membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di seluruh Asia Barat. AS diketahui mengoperasikan fasilitas militer di sejumlah negara kawasan, termasuk Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turkiye. Dengan diplomasi yang berjalan beriringan dengan manuver militer, kawasan Timur Tengah kembali berada dalam pusaran ketidakpastian, sementara negara-negara seperti Afghanistan mulai secara terbuka menyatakan posisi politiknya di tengah potensi eskalasi besar. (*)