
kabar24.bisnis.com · Mar 1, 2026 · Collected from GDELT
Published: 20260301T061500Z
Bisnis.com, JAKARTA — Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas usai serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Teheran pada Sabtu (28/2/2026). Presiden AS Donald Trump mulanya mengeklaim bahwa serangan gabungan tersebut telah menewaskan Khamenei. Hal ini lantas dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran beberapa jam setelahnya. "Diumumkan kepada rakyat Iran bahwa Yang Mulia Ayatollah Agung Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, telah gugur sebagai syahid dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika dan rezim Zionis pada pagi hari Sabtu, 28 Februari," demikian dilaporkan oleh kantor berita Iran, Tasnim, dikutip dari Al Jazeera. Selain itu, media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa putri, menantu, hingga cucu dari Khamenei juga tewas dalam serangan tersebut. Khamenei yang tewas dalam usia 86 tahun mengambil alih kepemimpinan Republik Islam Iran pada 1989 silam, sebagai suksesor Ayatollah Ruhollah Khomeini. Meskipun Khameini dikenal sebagai figur ideologis di balik revolusi yang mengakhiri kekuasaan monarki Pahlavi, Khamenei dianggap sebagai sosok yang membentuk aparat militer dan paramiliter yang menjadi pertahanan Iran.Baca JugaAS-Iran Memanas, 58.000 Jemaah Umrah Indonesia Berada di Arab SaudiAli Khamenei Tewas usai Serangan AS-Israel, Iran Masuk Masa TransisiTrump Kirim Serangan Paling Mematikan dalam Sejarah AS ke Iran Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran pada 1981 hingga 1989, khususnya dalam memimpin perang melawan Irak. Usai menjadi orang nomor 1 di Iran, dia mencanangkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai entitas yang dominan tak hanya dalam bidang militer, melainkan juga ekonomi dan politik. Iran menjadi salah satu negara yang berseberangan dengan negara-negara Barat, di samping sanksi ekonomi yang dijatuhkan. Kepemimpinan Khamenei beberapa kali diguncang krisis dalam negeri. Beberapa di antaranya terjadi pada 2009 menyusul klaim adanya kecurangan dalam pemilihan presiden, serta pada 2022 terkait hak-hak perempuan. Teranyar, Januari lalu, permasalahan ekonomi yang meningkat menjadi gejolak nasional juga memuat tuntutan agar Khamenei digulingkan. Respons aparat berwenang Iran pun disebut menjadi yang paling keras sejak revolusi 1979. Pandangan Khamenei tentang kemerdekaan dan kekuasan kerap kali diartikan sebagai cara mempertahankan Iran hingga luar batas negara, khususnya terkait AS dan Israel. Namun, dia tak terlepas dari kritik bahwa generasi muda di Iran yang menginginkan reformasi dan peningkatan ekonomi, alih-alih terus terlibat dalam konflik berkepanjangan tersebut. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel